Rabu, 22 April 2009

Renungan buat ibu

RENUNGAN BUAT HAWA

Ibu dan Facebook
Ibu
Facebook
Hubungannya erat sekali
Setiap hari sehabis mandi selesai makan sehabis apapun
dalam hatiku aku berpikir
mau kemana gerangankah ia?
notebook
tapi apa yang selalu ia lihat di notebook?
facebook
tiap hari tawanya menggema
sampai kapankah hubungan erat antara ibu dan facebook?
mungkin sampai akhir hayatnya
notebooknya akan dibawanya ke surga
Judul email tersebut adalah “Bahaya Facebook”. Ketika saya membukanya, email tersebut tidak berisi tulisan ataupun foto. Hanya ada sebuah kalimat tentang anjuran untuk mewaspadai bahaya situs jejaring sosial yang sedang booming akhir-akhir ini, Facebook. Sebuah attach file video saya unduh.
Terlihat seorang gadis kecil usia sekitar 10 tahun duduk di atas kursi di sebuah panggung dengan sorot lampu besar terfokus padanya. Kemudian gadis kecil itu membaca puisi di atas. Ketika ia membacanya, terdengar tawa berderai dari audiens yang menonton.
Mendengar lirik pertamanya, spontan saya tertawa. Apalagi melihat ekspresinya ketika membaca, pun nada suaranya seolah menunjukan dia menahan rasa kesal untuk waktu yang cukup lama. Namun ketika meresapi lirik pada puisinya itu, saya tertegun dan termenung. Sebegitu dahsyatnya efek dari sebuah teknologi yang disebut situs jejaring sosial tersebut (social network site). Sebenarnya bukan untuk kali ini saja kasus semacam ini terjadi. Berberapa waktu yang lalu, Yahoo!Massanger meledak diantara para pengguna internet. Dikabarkan bahwa sepasang suami istri mengakhiri jalinan pernikahan mereka karena sang istri terpesona dengan seorang “teman” di daftar teman YMnya.
Alkisah, karena sang suami sibuk bekerja, sedangkan sang istri tidak bekerja, maka dipasanglah jaringan internet ke rumahnya untuk hiburan dan mengisi waktu bagi sang istri, disamping untuk menunjang tugas suami. Sang istri merasa nyaman dengan adanya fasilitas tersebut. Ketika YM mengalami booming, sang istri ikut terbawa arus. Setiap hari tidak bisa lepas dari perangkat komputer dan internetnya itu. Puncaknya, ketika sang istri menemukan sesosok “teman” laki-laki yang dianggapnya “lebih” dari suaminya sendiri. Boleh jadi karena kesibukan sang suami, sang istri merasa kurang mendapat perhatian. Ketika sang istri mendapat perhatian “teman” tersebut, segala sesuatunya dicurahkan kepadanya.
Parahnya, sang istri sampai melupakan tugas-tugasnya sebagai seorang ibu dan seorang istri. “witing trena jalaran saka kulina”, adanya cinta karena ada kebiasaan. Merasa sudah cocok, “teman” berjanji menikahi sang istri itu jika sudi bercerai dari suaminya yang sekarang. Benar saja, sang istri tersebut akhirnya bercerai. Namun ketika wanita tersebut menagih janjinya, sang “teman” mengelaknya. Dia mengatakan bahwa apa yang dikatakannya hanya untuk mengujinya apakah ia orang yang setia atau tidak.
Ketika internet pertama kali booming di era 2000-an, MiRC mengambil kendali. Ketika mailing list muncul, beragam komunitas membentuk mailing listnya untuk memperat komunikasi dan interaksinya. Hampir semua komunitas memiliki mailing list. Tanpa harus dicek, milis bisa hidup dan tidak akan kadalauarsa (expired). Beberapa waktu kemudian, Yahoo! Mengembangkan Yahoo!Massanger (YM). Dengan fitur ini, kita dapat ngobrol (chat) sepuasnya dengan koneksi kita dengan biaya jauh lebih murah dari telepon. Berkembang kemudia forum diskusi. Orang-orang ramai bergabung pada forum diskusi. Entah forum itu bertema daerah asal, almamater, komunitas hobi, agama, ilmiah, dan sebagainya. Bosan dengan forum, meledaklah situs pertemanan (Friendster, Hi5, dan sebagainya). Dan yang paling mutakhir adalah Facebook.
Kesemuanya itu membawa dampak positif dalam pengembangan jejaring komunitas. Namun yang terkadang luput dari perhatian adalah dampak kurang baik yang ditimbulkan. Dua kisah di atas menjadi contohnya. Dalam kasus tersebut, sosok seorang ibu menjadi sorotan. Sebuah amanah termulia di atas bumi ini, yang Rasulullah menyebutkannya hingga tiga kali, menjadi pertaruhan. Seorang ibu yang mempunyai amanah sebagai pemimpin rumah tangga dalam membina keluarga, dan membina pendidikan bagi anaknya. Beratnya tanggungan amanah itu tidak jarang membuat seroang ibu jenuh dan membutuhkan hiburan sebagai selingan. Perkembangan teknologi yang ditawarkan internet dewasa ini, tidak hanya memberikan hiburan, namun ketika salah atau berlebih dalam penggunaannya, mempunyai akibat yang fatal.
Teknologi komunikasi dan informasi memungkinkan kita untuk memperpendek jarak ruang dan waktu. Kita bisa mengetahui informasi terbaru dari belahan dunia manapun pada saat ini juga. Namun yang perlu diingat, belum tentu apa yang terjadi di balik sana adalah beul-betul terjadi. Boleh jadi ada konspirasi dalam pengelolaan dan pengolahan informasi.
Pada situs jejaring pertemanan tersebut misalnya, ataupun melalui fasilitas ngobrol (chat), kita (dipaksa) mempercayai semua hal yang ada di depan kita. Ketika teman kita menulis bahwa dia sedang marah, kita percaya mentah-mentah. Pun begitu ketika teman kita mengatakan atau menulis kisah lucu tentang dirinya ataupun orang lain, serta merta kita percaya dan ikut larut dalam kegembiraannya. Kita lupa akan satu prinsip dalam informasi: objektifikasi. Dalam sebuah iklan permen, disebutkan, “gak semua yang loe denger itu bener…”. Kita lupa untuk mengkonfirmasi dengan sumber lain. Boleh jadi ketika teman kita mengatakan dia sedang sedih, nyatanya dia sedang tertawa terbahak-bahak. Karena hanya mengandalkan satu sumber, kita percaya mentah-mentah. Kita semakin larut.
Klimaksnya, terjadilah kasus tersebut. Bukan tidak mungkin hal seperti itu akan terulang kembali. Masing-masing dari kita adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Laki-laki bertanggung jawab atas dirinya dan anak istrinya kelak. Seorang wanita bertanggung jawab atas putranya dan untuk suaminya. Meskipun yang menjadi contoh tadi adalah sosok seorang wanita, bukan berarti renungan ini hanya untuk wanita. Renungan ini untuk kita resapi bersama.
Selamat Hari Kartini dan Hari Perempuan Internasional.
p.s.
Jika RA Kartini masih hidup, dan melihat video tadi, apa yang akan dikatakannya?
Dari : http://eramuslim.com/oase-iman/renungan-tidak-hanya-untuk-wanita.htm

Sabtu, 18 April 2009

SYAHADAT

VS

KESOMBONGAN

Setiap diri yang terlahir ke muka bumi adalah sudah menjadi rencana besar Allah SWT untuk scenario sunnatullahNya. Setiap kelahiran yang terjadi, sesungguhnya jauh hari sebelumnya telah terikat janji antara si hamba dengan Kholiqnya, Allah SWT. QS. 7 : 172

DAN ( INGATLAH ) , KETIKA TUHANMU MENGELUARKAN KETURUNAN ANAK - ANAK ADAM DARI SULBI MEREKA DAN ALLAH MENGAMBIL KESAKSIAN TERHADAP JIWA MEREKA ( SERAYA BERFIRMAN ) : " BUKANKAH AKU INI TUHANMU ? " MEREKA MENJAWAB : " BETUL ( ENGKAU TUHAN KAMI ) , KAMI MENJADI SAKSI " . ( KAMI LAKUKAN YANG DEMIKIAN ITU ) AGAR DI HARI KIAMAT KAMU TIDAK MENGATAKAN : " SESUNGGUHNYA KAMI ( BANI ADAM ) ADALAH ORANG - ORANG YANG LENGAH TERHADAP INI ( KEESAAN TUHAN )" .

Pertanyaannya adalah:

Ketika kita diingatkan oleh Allah kembali melalui Qur’an ini, apakah kemudian kita segera sadar akan persaksian itu?

Dunia memang penuh warna. Hitam, biru, kuning, hijau, dan aneka warna lainnya. Dunia memang penuh dengan gegap gempita, sorak sorai, maupun gemerlap keindahannya. Namun kesaksian dan perjanjian itu adalah HAQ. Tugas setiap hamba kemudian adalah kembali mengulangi ikrar (syahadat) itu semenjak ia menghirup segarnya udara dunia. Ketika aqil baligh, kokohlah ikatan itu mengikat setiap leher dan urat nadi setiap hamba. Ada dua pilihan : BERIMAN or KUFUR.

  1. Ketika Manusia itu Beriman

Ketika manusia menyadari eksistensi dirinya, tentunya ia akan sadar akan apa yang harus ia kerjakan. Kemanakah cintanya ia tujukan ? Kemanakah ketaatan dan loyalitasnya ia berikan ? Kemanakah arah hidup akan ia hendak tuju ?

Karena itulah harus ada satu upaya cerdas seorang hamba agar ia selalu fresh dan kuat keimanannya.

Rosulullah SAW memberikan satu nasehat agar setiap manusia selalu membarui syahadatnya. Itu artinya, adalah sebuah keharusan setiap diri melakukan muhasabah setiap waktu, setiap hari dan setiap keadaan.

Di setiap terbuka mata dari setelah tidur (mati) kita, sejenaklah merenung untuk memikirkan tentang kondisi syahadat kita pada hari itu. Apa yang kau pikirkan di pagi itu, akan mempengaruhi langkah kakimu di sepanjang hari itu. Jadi sejak mata terbuka, hendaklah Allah selalu teringat oleh kita. Karena itulah Islam mengajarkan hal mulia setiap manusia terjaga dari tidurnya. BERSYUKUR dan MENGAKUI/MEMPERBAIKI pengakuan/syahadatnya dengan diimplementasikan melalui doa bangun tidur.

“Segala puji bagiMu ya Allah yang telah membangkitkan aku dari setelah kematianku. Dan Hanya kepadaMu Ya Allah aku kembali”.

Ketika hari kita mulai dengan ingat kepada Allah SWT, ketika hari kita mulai dengan sanjungan syukur kepada Allah SWT, ketika hari kita mulai dengan mengharap bimbingan dan pemeliharaan Allah SWT, dan ketika hari kita mulai dengan rasa pasrah kembali kepada Allah SWT, maka apa yang akan dapat menjadikan seorang mukmin bersedih hati? Apa yang akan bisa membuat seorang mukmin takut menapaki perjalanan hidup ini? Allah SWT sungguh telah berjanji kepada setiap manusia beriman : Laa Khoufun wala yahyanuun. –janganlah kalian takut dan juga bersedih hati--.

Ketika kita memang mengundang Allah SWTuntuk hadir dalam setiap waktu kita, dalam setiap langkah kita, dalam setiap urusan kita, dalam setiap asa dan harapan kita…. Maka sesungguhnya tiadalah Allah akan membiarkan hambaNya berjalan sendiri mengarungi kehidupannya. Maka seungguhnya Allah SWT akan sangat dekat dengan dirinya. Tangan, kaki, mulut dan akalnya akan bergerak dengan bimbingan Allah SWT. Setiap kesulitan, kesusahan, beban hidup, akan terasa begitu nikmat untuk dijalani, ada selalu solusi dan hikmah yang bisa diambil darinya.

Sesungguhnya makannya, tidurnya, bekerjanya, diamnya, berdiri/duduknya, berjalan atau berhentinya adalah ibadah bagi dia. Hatinya selalu bercahaya karena mengingat Allah, lisannya selalu basah dan mulia dikarenakan mnyebut asma Allah. Tiada satu butir nikmatpun yang tidak ia syukuri dan ia sia – siakan. Ia selalu merasa diawasi dan bergantung kepada Allah, sehingga ia selalu hati – hati dan waspada dalam menggunakan nikmat – nikmat Allah. Ia selalu rindu perjumpaan dengan Allah, ia selalu berharap ujung dari kehidupannya (saat kematianya) dalam keadaan ridha Allah.

“Wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada rabmu dengan hati yang tenang. Yang Allah ridha kepadamu dan engkau ridha kepadaNya. Masuklah wahai hambaKu, masuklah engkau ke dalam surgaKu.” (QS. 89:27)

Sesungguhnya Allah SWT amat sangat dekat dan cepat menghampiri hamba – hambaNya yang dengan segala kepasrahan datang menuju kepadaNya. Seungguhnya pertolongan Allah SWT akan selalu menjadi payung bagi teriknya panas dunia.

Wahai Allah, mudahkanlah lisan ini untuk menyebut dan memanggil AsmaMu, ringankanlah hati ini untuk memenuhi panggilanmu dan menerima hidayahMu, teguhkanlah kaki ini untuk tetap menapaki jalan ridhoMu.

  1. Ketika Manusia itu kufur

Bagaimanakah keadaan dan sikap dari orang – orang yang kufur?

Sungguh amatlah buruk kelakuan mereka. Tiada waktu yang tidak mereka gunakan untuk menentang Allah, tak segan – segan juga mereka memaki dan mencela Allah SWT. Begitu keras dan gelapnya hati mereka. Tidak cukup 1 ayat, 2 ayat, 3 ayat, 1 surah bahkan Qur’an yang sempurna mampu merubah mereka. Sungguh hati, mata, dan telinga mereka telah mati dikarenakan kelakuan mereka sendiri. Allah berfirman QS. 2 : 6 -7.

‘‘ Orang – orang yang kafir adalah sama saja bagi mereka, apakah kau peringatkan mereka atau tidak kau peringatkan mereka. Mereka tetap tidak akan beriman. Allah telah menutup mati hati mereka, dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka. Dan bagi mereka siksa yang besar.”

Tidak ada yang keluar dari mulutnya selalin cacian dan makian sebagai wujud tiadanya iman dalam dirinya. Keluh kesah dan menyalahkan Allah adalah dzikirnya, maksiat adalah pekerjaannya, sumpah serapah itulah doa – doanya.

Ketika mata terbuka dari setelah tidurnya, bukan pujian dan syukur keluar dari bibirnya. Setiap mata terbuka, dunia yang ada dalam pikirannya. Maksiat dan kemungkaran itulah program hidupnya. Maka pantaslah kalau neraka dan siksa Allah diberikan pada mereka.

KESOMBONGAN

Sombong sering diidentikkan dengan orang yang berjalan dengan pongah, tidak mau menegur, berdiri berkacak pinggang, atau seseorang yang dalam kemewahan kemudian tidak mau berbagi dengan yang kekurangan.

Tapi tahukah kita, bahwa cukuplah seseorang yang menyisakan satu butir nasi tidak ia ambil dan dimakan itu sudah berlaku sombong. Cukuplah orang yang tidak mau berdoa ketika akan tidur dan bangunnya itu disebut sombong, atau orang yang mengatakan “ah, ini mah kecil. Gini aja kok ga bisa” atau “lihat nich aku….”.

Astaghfirullahal ‘adhim….na‘udzubillahi min dzalik.

Sesungguhnya satu butir nasi itu rizki dari Allah untukmu, yang disana ada berkah dari Allah, sesungguhnya setiap doa yang kau lantunkan itu adalah sebagai tanda engkau mengakui diri sebagai hamba Allah dan selalu merasa lemah tanpa pertolongan dan kasihsayang Allah, seungguhnya kekuatan itu milik Allah dan hanya padaNya kita mohon kekuatan dan perlindungan.

Mengapa tidak kau ambil satu butir nasi itu ? Apakah tidak kau berfikir satu butir nasi itulah yang telah menjadi saksi atas kekufuranmu kepada Allah. Alangkah sombongnya diri ketika seperti itu. Mengapakah engkau tidak mau berdoa? Surga itu milik Allah, dunia seisinya juga milik Allah. Karena itulah setiap manusia wajib meminta kepadaNya. Ketika dia tidak memintanya, samalah dia mengambil tanpa perkenan dari pemiliknya. Dan itu sama artinya dia adalah Pencuri.

Setiap manusia selalu dibatasi dengan kelemahan dan kemampuan, sehingga tidak ada yang terjadi atasnya kecuali ijin Allah. Karena itulah setiap manusia wajib berdoa kepadaNya. Sehingga apabila sesuatu itu terwujud maka sungguh ada ketenangan dan ridha Allah di sana, dan apabila hal tersebut tidak tercapai maka sesungguhnya itu adalah yang baik untuk dia.

Sebaliknya ketika manusia dengan kesombongannya tidak mau berdoa kepadaNya, sungguh andaipun tercapai apa yang diinginkannya, maka yang sebenarnya ia sedang menguntai tali neraka di lehernya, sesungguhnya ia telah mengumpulkan murka Allah untuk ditimpakan kepadanya. Dan itu hanya masalah waktu kamu akan terjadi.

Begitu juga seorang yang mengatakan “ kalau bukan aku… dan sejenisnya, maka betapa sombongnya dia, sunguh kekafiran telah menyelimuti dirinya. Ia telah lupa bahwa Allah sajalah yang menjadikan segala sesuatu itu terjadi. Betapa manusia seperti ini telah mendustakan Allah Yang Maha Kuasa. Lalu apa yang pantas bagi orang seperti ini?

RENUNGAN

Wahai diri, sedari bangun pagi ini… sudahkah lisan digunakan untuk bersyukur dan memuji….

Wahai diri, sebanyak apakah dzikir dan syukur membasahi lisanmu dibandingkan umpatan dan cacianmu terhadap keadilan Rabbmu….

Wahai diri, sudahkah kau memohon kepada Allah untuk menyertaimu dalam setiap langkahmu hari ini….

Wahai diri, sudahkah kau menyertakan Allah dalam setiap urusan yang membebani punggungmu…

Wahai diri, masihkah kau tidak ingat betapa Allah telah kau pinggirkan dengan keangkuhanmu…

Wahai diri, tidakkah kau tidak ingat betapa Allah telah menitipkan ridhanya pada kedua orangtuamu, sementara engkau tidak pernah lelah dan henti menyakiti mereka dan mengecewakannya…

Wahai diri, tidakkah kau ingat betapa beraninya kau campurkan ibadahmu dengan ambisi duniamu…

Wahai diri, mengapa tidak kau ingat lagi betapa banyak tangan tengadah kepadamu…kemudian kau berlalu tanpa kau penuhi harapan itu, padahal kau mampu…

Wahai diri, mengapa tak kau ingat betapa sering kau mengatakan” ya Robbi, ampunilah dosaku”… tapi kemudian kau tumpuk lagi dosa – dosa itu…

Wahai diri, tidakkah kau ingat…kekotoran mulutmu…kepicikan akalmu…. Begitu ngeresnya pikiranmu…

Wahai diri, tidakkah kau ingat ketika dua mata begitu terpesona dan hanyut dalam pandangan dosa…

Wahai diri, tidakkah kau ingat ketika telinga begitu senangnya mendengar cacat dan keburukan orang lain…

Wahai diri, tidakkah kau ingat ketika Allah memanggilmu, kau katakana “nanti saja” padahal Allah tak pernah menunda nikmanya kepadamu….

Wahai diri, tidakkah kau ingin kembali kepadaNya….

Tidakkah kau rindu berada dipangkuanNya….

Tidakkah kau ingin hidup dalam terangnya cahayaNya….

Tidakkah kau ingin mengambil surga dariNya…

Tidakkah kau ingin dihapuskan atas setiap dosa…

Dosa yang menggunung….tinggi melampui tingginya cita – citamu…

Dosa yang mencekik leher akibat kelalaianmu…

Tidakkah kau ingin itu?

Kalau masih ada sisa airmatamu….menangislah!

Sebab itu baik bagimu.

Kalau masih ada sisa airmatamu….menangislah!

Sebab panasnya neraka akan dingin atas tetasan air mata itu.

Kalau masih ada sisa airmatamu….menangislah!

Sebab ia bisa meneduhkan mata dan hatimu.

Kalau masih ada sisa airmatamu….menangislah!

Sebab setiap dosa akan luluh bersama airmatamu.

Kalau masih ada sisa airmatamu….berdirilah, rukuklah, sujudlah!

Sebab Allah tidak akan mengecewakanmu atas semua doa – doamu.

Disisa masa hidupmu…. Datanglah dan bersimpuhlah, sujudlah…mohon ampunlah…mintalah rahmat bagimu…. Disisa hidupmu….berjanjilah hanya Allah yang ada dalam hidupmu…!

Wallahu a’lam bish showab.

Jumat, 03 April 2009

HIDUP ITU PILIHAN, JADI MEMILIHLAH

HIDUP ITU PILIHAN. Yupz, Allah telah memerintahkan kepada setiap manusia untuk menentukan ilihan atas konsekuensi ia diberi hidup. QS. Asy Syams, Allah memberikan 2 (dua) pilihan.
Pilihan pertama, Fajir (Kesesatan).
Yaitu orang - orang yang bergelimang dengan syirik, maksiat dan dosa lainnya kepada Allah dan RosulNya.
Pilihan kedua, Taqwa (Ketaatan/ketundukan)
Yaitu orang - orang yang senantiasa menjalani kehidupannya dengan penuh ketaatan, ketundukan dan kecintaan kepada Allah dan RosulNya. (bersambung)